Motivasi,  Perspektif

Memilih Teman agar Jadi Teman Yang Terpilih

Seekor semut masuk ke dalam tas seorang dokter yang akan pergi untuk tugas ke luar kota.

Sampai di kota tujuan, sang dokter mengeluarkan isi tas untuk mengecek peralatan kerjanya.

Semut yang ikut dan masuk ke dalam tas tadi, seketika ke luar. Dia merasa kebingungan, seperti dalam keterasingan.

Semut diseberang sana langsung menyapa semut kebingungan tadi.

“Welcome to Malang brother!”
“Malang?” tanya kebingungan.
“Ya. Kamu lagi ada di Malang!”

Singkat cerita dokter tadi telah menyelesaikan pekerjaannya dan berniat pulang kembali ke kotanya.

Sang semut pun masuk kembali ke dalam tasnya. Setibanya di kota asal, semut tadi pun ke luar dari tas dan langsung bertemu teman sepermainannya.

“Guys, kemarin barusan dari Malang lho.”
“Malang? Jangan mimpi! Jangankan ke Malang, jalan sebelum Monas saja kamu gak akan sampai!” seketika teman-temannya tertawa.

Ketika teman-teman semut tadi menertawakannya, pada kenyataannya si semut tadi memang benar ke Malang. Bukan hoax.

Teman-temannya tidak percaya, karena mustahil bagi seekor semut bisa jalan keliling provinsi. Keliling komplek saja bisa pingsan.

Tapi faktanya semut tadi benar ke Malang.

Maka benar kata pepatah arab:

“Jika ingin tahu seseorang, jangan tanya dirinya. Tanyalah temannya dan keadaan temannya.”

Jika kita ingin baik dan sukses, maka berkumpulah dengan mereka yang baik dan sukses. Sebab setiap teman itu akan meniru temannya.

Kita berbuat baik atau buruk pun, setidaknya pasti akan ditiru teman kita. Pun jika teman kita baik atau buruk perilakunya, sadar atau tidak, kita pun akan menirunya.

Teman dalam perjalanan hidup kita akan mempengaruhi karakter, perilaku, pola pikir, dan kebiasaan kita. Jadi pentingnya memilih lingkungan pertemanan.

Kalau Anda saat ini masih banyak malasnya, banyak menunda pekerjaan, sering mengeluh, suka bergunjing, dan gemar nebar hoax. Cek kembali, jangan-jangan banyak teman Anda yang berperilaku seperti itu. Solusinya, perbanyak lagi teman baiknya.

Saya pun pernah berada di lingkungan pergaulan yang tidak produktif. Banyak waktu dibuang percuma tanpa ada perubahan hidup dan peningkatan kompetensi.

Bahkan dulu teman saya tidak ada yang suka jualan atau berbisnis. Setelah menyadari lingkungan tadi tidak produktif, perlahan saya ubah lingkungan saya.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mengikuti seminar kewirausahaan, motivasi, dan pengembangan diri.

Darisanalah lingkungan baru yang satu frekuensi terbentuk.

Ketika kita punya lingkungan pertemanan yang satu frekuensi, kita akan mudah menjalankan visi dan misi hidup kita.

BTW tanggal 6 Januari 2019, Nulisyuk akan mengadakan Workshop Menulis Buku bersama Jee Luvina.

Event ini bisa jadi jalan buat Anda yang suka menulis tapi masih bingung bagaimana dan darimana mulainya.

Disana juga Anda akan bertemu dengan teman-teman baru yang satu frekuensi, punya vibrasi positif, dan suportif.

Daripada weekend awal tahunnya dipakai untuk bergalau tak jelas, akan lebih baik dipakai buat menjaring ilmu untuk mewujudkan resolusi baru di tahun baru.

Salam Metamorproses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: