Perspektif

Makna Sukses

 

“Bro, tahu si Andre yang suka ingusan pas zaman sekolah dulu?”

“Iya. Kenapa dia bro?”

“Gak nyangka sekarang dia sudah sukses. Kemarin gue ketemu dia, bawa BMW terbaru.”

“Sementara gue, masih gini-gini aja.”

Seringkali kita mendefinisikan sukses dilihat dari materi yang dimiliki orang. Ada orang atau teman yang memakai barang branded, kita sebut sukses. Ada teman yang naik jabatan, kita bilang sukses. Ada teman yang punya aset berlimpah, kita sebut sukses.

Jika sukses dikategorikan demikian, berarti sukses hanya milik mereka yang beruntung secara materi. Bagaimana dengan mereka yang kurang beruntung secara materi? Bisakah disebut sukses?

Seorang pengusaha kaya raya, segala aset dia miliki, barang branded dikoleksi, dan mobil mewah berbaris rapi di rumah, bisa saja disebut sukses.

Seorang petani, pedagang kaki lima, pekerja kasar, dan kuli bangunan yang pergi pagi pulang petang, tiap hari banting tulang pun bisa disebut sukses.

Bisa jadi pengusaha kaya tadi sukses dalam bisnisnya, disegani karyawannya, dan dihormati koleganya. Tapi ketika pulang ke rumah, tak satu pun keluarga menyambutnya. Rumah terasa sepi, batin mulai mengering.

Sementara para petani, pedagang kaki lima, dan pekerja kasar tadi, boleh jadi sering dipandang sebelah mata orang. Tapi ketika mereka pulang ke rumah, mereka disambut bak pahlawan oleh anak dan istrinya. Suasana rumah terasa hangat, ada ketentraman di dalamnya, dan batin terasa subur.

Uang memang bisa membeli rumah mewah, tapi tidak bisa membeli kenyamanan di dalamnya.
Uang bisa membeli jam termahal, tapi tidak bisa membeli waktu.
Uang bisa membeli perlengkapan pesta, tapi tidak bisa membeli kegembiraan dan suka cita.

Jika ada orang yang berkata uang bisa membeli segalanya, saat ini di rumah para orang kaya lainnya kita tentu tidak akan melihat perceraian, kesedihan, masa tua, masa sakit, juga kematian.

Kita memang perlu materi. Tapi jangan dijadikan tujuan, apalagi menuhankannya. Materi hanyalah sarana untuk kita mencapai tujuan hidup.

Dan setinggi apapun pangkat kita, sehebat apapun preatasi kita, jika keberadaan kita tidak bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang di sekitar, ada dengan tidak adanya kita dirasa sama saja, maka sukses seperti tanpa makna.

Sukses bukan soal kepemikikan, posisi, atau preatasi semata. Tapi soal inspirasi dan kebermanfaat. Ketika kita bisa menginspirasi dan memberi manfaat pada banyak orang, disitulah sukses.

Sebab sukses itu bukan memanfaatkan banyak orang. Tapi bermanfaat bagi banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: