Perspektif

SIAL ITU KITA YANG BUAT

 

Seorang pemuda terjebak rasa lapar level 48, disebuah kontrakan. Ingin hati pesan go food, apa daya tak ada uang cash. Dengan berat langkah dia ke luar mencari makan.

 

Tibalah dia di warung nasi seberang untuk memenuhi hajatnya. Tapi rupanya warung nasi tadi tidak buka seperti biasanya.

 

“Sial, sudah jalan jauh ke sini malah tutup.” Sambil menggerutu.

 

Melanjutkan langkahnya untuk mengisi perut, dia hampiri tukang bakso.

 

“Bakso mas, satu porsi!”. Pinta si pemuda.

“Baksonya habis mas”.

 

“Duh, sial. Lagi lapar gini malah habis” sambil lihat-lihat isi gerobak tukang bakso.

Dan si pemuda itu pun balik kanan, memutuskan pulang. Di tengah perjalanan, dia bertemu seorang kakek.

 

“Dari mana kamu, anak muda?” Tanya si kakek tanpa menatap si pemuda.

 

Dalam hati si pemuda ingin menjawab “Apa hak Anda bertanya seperti itu?”.

“Habis cari makan, belum sarapan. Tapi sial, warung nasi malah tutup. Beli bakso jam segini sudah habis.” timpah si pemuda.

 

“Bisa-bisanya kamu bilang sial. Kamu tahu, apa yang kamu alami saat ini adalah cara Tuhan menunjukkan rezeki dan kasih sayang pada hamba-NYA.”

“Boleh jadi kamu merasa lapar sekarang. Tapi lihatlah, ada hamba-NYA yang mengucap syukur, karena dagangannya sudah habis sebelum siang. Sementara kamu, sibuk mengumpat dan menyalahkan keadaan!.”

“Seharusnya kamu mengucap syukur karena dagangan mereka sudah laris sebelum siang. Itu artinya mereka bisa pulang lebih awal menemui keluarganya.”

 

Mendengar ucapan kakek tadi, si pemuda merasa ditampar.

Kita mungkin pernah berada dalam situasi seperti pemuda tadi. Kita bahkan sering menganggap situasi yang tak sesuai harapan sebagai bentuk kesialan.

Sial itu kita yang buat. Tidak ada angka sial, tanggal sial, atau bahkan hari sial. Yang ada hanyalah pikiran negatif kita yang membuatnya seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: