Perspektif

Lingkunganmu Mempengaruhi Nasibmu

 

Nasib kita ditentukan oleh tindakan kita. Tindakan kita dipengaruhi oleh pikiran kita. Pikiran kita dipengaruhi informasi yang diterima (apa yang dilihat dan didengar). Dan informasi yang diterima, didapat dari lingkungan.

 

Nasib – Tindakan – Pikiran – Informasi – Lingkungan

 

Seekor gajah berlari menyelamatkan diri, ketika kebakaran terjadi di sebuah kebun binatang. Sang gajah akhirnya selamat dan harus dikarantina beberapa hari untuk proses penyembuhan.

 

Untuk alasan keamanan, kaki gajah diikat rantai besi agar tidak kabur. Kondisi gajah mulai membaik. Namun ketika ia berusaha berdiri dan berjalan, seketika terjatuh karena terikat rantai. Ia coba lagi berjalan, dan jatuh lagi. Dicobanya berkali-kali berdiri, dan terjatuh berulang-ulang. Sampai akhirnya dia frustasi.

 

Keesokan harinya, sang pawang melepaskan rantai besi di kakinya. Gajah masih tampak frustasi. Ingin mencoba berjalan kembali tapi pikirannya sudah berkata “Ah ngapain jalan, toh nanti juga jatuh lagi. Mendingan diam aja.” Padahal kaki gajah sudah tidak dirantai.

 

Karena pikirannya sudah terkunci seperti dirantai, ia enggan mencoba kembali. Hasilnya nasib gajah jadi pendiam dalam kurungan. Inilah yang dinamakan rantai gajah.

 

Kita mungkin pernah seperti gajah tadi. Merasa sudah bekerja dengan kerasnya, tapi tak jua mendapat hasil. Sampai-sampai kita memilih menyerah, karena berpikiran sekeras apapun kita mencoba toh pada akhirnya gagal juga. Padahal yang menggagalkan impian kita bukan orang lain, tapi pikiran kita sendiri.

 

Pikiran kita dipengaruhi informasi yang didapat. Baik yang dibaca, dilihat, atau didengar. Informasi yang diterima pun diperoleh dari lingkungan sekitar kita.

 

Kalau kita bergaul dengan tukang gosip, maka informasi yang diterima tidak akan jauh dari gosip. Seperti kepoin akun gosip misalnya. Pun kalau kita bergaul dengan orang berilmu, maka informasi yang diterima akan berupa ilmu-ilmu baru. Maka berhati-hatilah memilih lingkungan pergaulan. Sebab nasib kita bisa ditentukan oleh lingkungan tersebut.

 

Banyak anak-anak yang memiliki cita-cita tinggi, tapi lingkungan tidak mendukungnya. Ujungnya cita-cita anak harus terkubur.

 

“Nak, kita ini hanya orang kecil dan miskin. Tak perlu kamu bermimpi setinggi langit. Orang lain bisa membeli mimpinya karena mereka kaya dan pintar. Beda dengan kita.”

 

Mungkin kita pernah mendengar dialog di atas, baik di sinteron atau kisah nyata. Ketika si anak membenarkan apa yang disampaikan lingkungannya, maka pikirannya akan membenarkan demikian.

 

“Benar juga apa yang dikatakan mereka. Saya kan hanya anak orang miskin yang tinggal di pinggiran kota. Bayar sekolah saja susah, apalagi harus kuliah”.

 

Ketika Anda mendapatkan kegagalan dalam pekerjaan, dan lingkungan kerja menyalahkan Anda terus menerus. Mereka mencibir Anda tidak berbakat, mereka salah pilih Anda, dan Anda adalah dianggap tidak becus bekerja. Ketika informasi negatif tadi diterima, direkam dalam pikiran, dan kita membenarkannya, maka pikiran kita akan menentukan tindakan berikutnya.

 

Jika Lionel Messi disuruh bermain di Liga 3 Indonesia, apakah bisa membuat skillnya berkembang? Mungkin iya tapi sangat tipis, karena lingkungannya tidak dirancang untuk mendukungnya.

 

Sebaliknya, pemain Liga 3 Indonesia diajam berlatih di Barcelona selama 3 bulan, kemungkinan besar akan ada peningkatan skills. Mengapa? Karena lingkungannya sudah dirancang untuk mendukung peningkatan skill para pemain tadi. Dari mulai fasilitas latihan, pelatih berpengalaman, asupan gizi, sampai hal teknis lainnya tak luput dari pengamatan.

 

Maka cara termudah mengubah seseorang adalah dengan merekayasa lingkungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: