Motivasi

SEKRUP EMAS

Menjadi karyawan tak perlu minder. Justru harus disyukuri. Disaat teman-teman kita yang lain masih berjuang mencari pekerjaan, kita malah sudah mendapatkannya. Artinya kita yang terpilih karena punya kemampuan yang tak dimiliki orang lain.

 

Sejatinya apapun profesi kita, selama pekerjaannya halal, tak usah malu. Dan kita juga tidak perlu menutup diri untuk tidak menceritakan profesi kita pada orang lain.

 

Memang ada yang beranggapan jadi karyawan itu ibarat sekrup dalam sebuah bangunan. Kecil tak terlihat dan seperti tak bernilai. Karena satu sekrup saja lepas, tidak akan membuat roboh bangunan. Toh bisa digantikan dengan sekrup yang lain.

 

Pun perusahaan akan tetap berjalan dan menggantikan posisi kita dengan karyawan yang baru, ketika kita sudah tidak bekerja lagi di sana.

 

Biarkan mereka berpikiran seperti itu. Tapi pastikan Anda menjadi skrup yang terbuat dari emas, dan bernilai tinggi. Yang akan membuat siapapun yang membuang dan menggantinya menyesal.

 

5 cara menjadi sekrup emas, biar semakin berkilau dan bernilai di tempat kerja.

 

1. Jangan lupakan investasi leher ke atas
Punya gaji yang lumayan, belum lagi bonus dan lemburan, membuat kita bisa membeli apapun yang diinginkan tanpa harus menunggu lama. Mau makan enak? Bisa. Mau hangout dan nonton tiap weekend? Ok. Mau traveling pas lagi libur? Tinggal pergi. Atau mau beli iPhone XS Max? Tak masalah.

 

Kadang dari semua yang sudah didapat di rekening, dibelanjakan begitu saja pada apa yang menjadi keinginan. Sampai lupa memberi nutrisi pada otak, karena lebih sering memanjakan urusan perut dan hawa nafsu.

 

Tidak salah kalau mau memanjakan diri dengan upgrade smartphone, kendaraan, dan barang-barang lainnya. Tapi jangan lupakan untuk upgrade kemampuan diri. Berapa banyak buku yang sudah dibaca selama setahun? Berapa kali ikut workshop/ seminar/ pelatihan dalam setahun? Jika tidak ada satu pun buku yang dibaca dalam setahun, dan tidak pernah meluangkan waktu mengikuti pelatihan pengembangan diri, maka sungguh sangat disayangan.

 

Setiap orang pasti punya kelemahan beserta kekuatannya. Tugas kita melatih kekuatan agar kelemahan semakin tertutupi. Jika kekuatan kita ada pada publik speaking, maka sebisa mungkin ikuti pelatihannya atau minimal baca buku-buku tentangnya. Pun dengan kemampuan yang lain.

 

Jangan pernah menunggu jadwal pelatihan dari perusahaan. Mending kalau perusahaannya mengadakan, kalau tidak, selamanya kita tidak akan belajar. Dengan investasi leher ke atas, setidaknya kita berada satu langkah di depan dibanding rekan lainnya.

 

Tapi ikut pelatihan kan mahal? Memang mahal. Tapi jauh lebih mahal jika kita tidak berilmu. Gak mau juga kan karir berjalan di tempat?

 

Dengan terus meng-upgrade kemampuan, wawasan kita akan luas, dan ngobrol dengan siapapun, termasuk atasan, akan lebih berisi dan percaya diri. Trust me it works!

 

Masak sih buat tampil ganteng atau cantik, upgrade kendaraan juga smartphone ada alokasi budgetnya, tapi untuk jadi pintar tidak mengalokasikannya?

 

 

2. Berbesar hati menerima saran dan kritikan
Tidak ada manusia yang sempurna, sekalipun superman. Superman saja kalah sama batu krypton. Seteliti apapun seseorang, pasti pernah melakukan kesalahan. Dan ketika kita ada di posisi itu, berbesar hati menerima setiap saran dan kritikan adalah pilihan bijak.

 

Kritik bukanlah hal memalukan. Justru bisa membuat kita semakin lebih baik. Anti kritik sama halnya dengan membunuh karir kita. Sebab kita tidak akan pernah bertumbuh.

 

Jika melakukan kesalahan adalah hal biasa, maka belajar dari kesalahan adalah luar biasa. So, jangan pernah takut pada kritikan. Apalagi Hrithik Roshan. #Eh

 

 

3. On time bukanlah pencitraan
Lebih baik kepagian daripada kesiangan.
Memang fenomena jam karet menjadi populer di negeri ini. Janjian acara jam 10, datang jam 11 lebih satu jam. Ketika dihubungi, dijawab sedang otw, padahal baru bangun tidur (kesiangan).

 

Salah satu modal yang dimiliki setiap orang adalah waktu. Dihabiskan atau tidak, waktu tidak akan diakumulasikan di hari berikutnya. Karena tak bisa disimpan, gunakan waktu sebaik mungkin.

 

Datang ke kantor on time bukanlah aib dan pencitraan. Tapi sebuah keharusan dan pertanda kita patuh pada aturan perusahaan. Jangan sampai kita datangnya sering telat, tapi pulang selalu teng-go, dan gajian minta on time. Itu mah kebangetan malu-maluin.

 

Bukan hanya datang ke kantor saja yang harus on time. Datang ke undangan meeting dan buat laporan pekerjaan pun harus on time. Kalau bisa dikerjakan sekarang ngapain nunggu besok?

 

 

4. Proaktif bukan reaktif

Ada dua cara yang bisa kita pilih dalam merespons sebuah kejadian. Cara pertama proaktif, yang kedua reaktif.

Sebuah botol berisi air putih tawar, jika dikocok dan diguncang akan berbuih, namun seketika buihnya akan hilang dan air putih tadi tetap jernih dan tenang. Seperti itulah jika kita mengambil respons proaktif.

 

Sebotol minuman bersoda, ketika dikocok dan diberi guncangan, soda tersebut akan berbuih mendorong tutupnya, dan menyemburkan airnya ke segala arah. Seperti itulah respons reaktif.

 

Menjadi proaktif bukan berarti tidak merespons. Tapi justru mengandalikan respons. Ketika menemui masalah, mereka yanb proaktif akan tetap tenang, mampu mengendalikan diri, tidak terpengaruh hal buruk di sekitarnya.

 

Sementara memilih reaktif, sama seperti minuman soda tadi. Begitu kita mendapat goncangan masalah, akan mudah tersulut, dan hilang kendali.

 

Jika kita tidak mampu mengendalikan diri sendiri, maka bersiaplah kita akan dikendalilan orang lain.

 

 

5. Punya daya juang demi mendapat peluang
Baperan dalam pekerjaan tidak akan mendatangkan peluang. Kalau karena kesalahan sedikit lantas kena marah atasan kita langsung baper, kapan majunya?

 

Memang dimarahin itu gak enak. Saya sendiri lebih baik mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin, untuk meminimalisir kena marah. Kalau pun mendapat salah, saya biasa menganggapnya seperti sebuah pukulan dalam tinju. Tidak apa-apa hari ini kalah dan babak belur, tapi besok dan seterusnya harus jadi pemenang.

 

Mereka yang punya daya juang, seperti sebuah bola karet yang dijatuhkan ke lantai. Samakin tinggi bola karet dijatuhkan, semakin tinggi pantulannya.

 

Sementara mereka yang tidak punya daya juang, seperti sebuah bola kaca. Akan hancur berkeping-keping ketika dijatuhkan dari ketinggian.

 

Dengan menjadi sekrup emas Anda bisa membuktikan kalau perusahaan tidak salah memilih Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: