Perspektif

Teng-Go Man

Teng-Go, begitu teng (jam pulang kantor bunyi), langsung go (pulang tepat waktu).

 

Rata-rata jam kerja di negara kita adalah 8 jam sehari (kalau normal). Meski pada kenyataannya sering terjadi molor. Banyaknya tugas diakhir bulan yang tidak bisa ditinggalkan, menjadi alasan para karyawan harus rela lembur sampai larut malam. Padahal ada penelitian yang mengungkapkan, seseorang yang memiliki jam kerja berlebih, cenderung mudah terkena depresi atau stress.

 

Bahkan sejumlah kecil dari pekerja yang memiliki jam kerja terlalu lama setiap minggunya lebih berisiko menderita gangguan irama jantung atau fibrilasi atrial. Hal ini terjadi pada karyawan yang umumnya bekerja lebih dari 55 jam per minggu (misalnya 11 jam selama 5 hari kerja setiap minggunya) dibandingkan dengan pekerja yang memiliki jam kerja normal, yakni 41-48 jam per minggu. (Dikutip dari hellosehat.com)

 

Meski pulang Teng-Go jadi idaman setiap karyawan, tapi masih saja beberapa dari merka yang masih sungkan atau malu-malu melakukannya. Terlebih bagi mereka yang masih anak bawang (baca: junior). Kadang merasa bersalah jika harus pulang Teng-Go. Seperti ada yang bertanya “mau ke mana, jam segini udah pulang?”. Padahal jam sudah menunjukkan waktunya pulang.

 

Kalau sudah begitu, tak jarang muncul dilema besar. Ingin cepat pulang, tapi tidak enak dengan rekan kerja yang lain. Takut dikira kurang loyal. Terlebih jika bos belum pulang. Padahal target pekerjaan kita hari itu sudah selesai dikerjakan. Ujung-ujungnya memilih menunda waktu pulang 30 menit, biar dikira dan dilihat loyal, solider, dan berdedikasi. Meski waktu 30 menit untuk menunggu tadi digunakan untuk scrolling, browsing, youtube-an, dan melakukan hal unfaedah lainnya.

 

Saya pun pernah berada di situasi tersebut. Ketika jam kerja sudah selesai, tapi rekan kerja lain masih berkutat dengan pekerjaannya, ditambah bos belum pulang. Begitu ambil tas, menuju parkiran, beberapa teman berujar “jangan dulu pulang, nunggu si ibu dulu. Kondisi tadi lagi mencekam”. Mencekam adalah istilah yang biasa kita pakai ketika mood ibu bos sedang buruk.

 

Jalan menuju ke luar mengharuskan saya melewati ruangan beliau. Dan kalau saya jalan di depan ruangannya sambil membawa tas, nanti bisa dikira pulang duluan. Kesannya kayak kurang ajar.

 

Kondisi ini saya alami seminggu. Sampai akhirnya saya dan salah seorang teman menemukan cara pulang cepat, tanpa harus merasa tidak enak dengan beliau dan rekan lain. Keesokan harinya, saya memilih tidak menggunakan tas, biar bisa pulang kapan saja 😀

 

Kalau pun harus membawa tas, kadang saya tinggalkan di loker. Karena kalau dibawa, saya harus melewati ruangan beliau untuk menuju loker. Hal ini bisa menyebabkan gagal teng-go, kalau terlihat beliau.

 

Soal dianggap kurang loyal karena pulang teng-go? Bagi saya kuantitas jam kerja tidak bisa dijadikan tolak ukur loyalitas karyawan. Karena yang tak kalah penting adalah kualitas jam kerja. Ini soal manajemen waktu dan skala prioritas.

 

Jika terlambat 5 menit saja datang ke kantor, efeknya bisa warbiyasa. Begitupun kalau kita terlambat pulang 5 menit, bisa-bisa kita terlambat satu jam sampai rumah dari biasanya. Pulang teng-go hanya soal perspektif. Bagi saya itu bukan sebuah pelanggaran atau kesalahan.

 

Kalau target pekerjaan sudah selesai, pulang teng-go tentunya tidak lagi jadi hal yang memberatkan hati. Terlebih lagi ada 5 keuntungan jika kita pulang teng-go

 

 

Pertama, waktu dengan keluarga jadi lebih banyak

Siapapun pasti setuju jika kita bekerja untuk keluarga. Tapi jangan sampai kita tidak punya waktu untuk mereka. Kalau sering kerja full day alias lembur, pulang sampai rumah larut, anak dan istri sudah pada tidur. Waktu bertemu mereka pun seakan sulit dan mahal. Berbeda jika pulang teng-go. Kita masih bisa berbincang-bincang, bercanda, dan makan bersama.

 

 

Kedua, melatih efektivitas dalam bekerja

Dalam hal ini, kita dilatih untuk disiplin, belajar skala prioritas, dan bekerja secara cerdas. Karena tidak mau lembur, akhirnya kita mengoptialkan waktu yang ada untuk segera membereskan pekerjaan

 

 

Ketiga, membuat kita lebih kreatif dan produktif

Pulang teng-go membuat kita lebih cepat sampai di rumah. Bagi yang punya hobi dan ingin mengembangkan skill atau potensi diri, tentunya bisa memanfaatkan waktu yang masih ada. Banyak hal yang bisa dilakukan jika kita tidak pulang larut malam. Berolahraga, makan malam bersama keluarga, menekuni hobi, atau aktivitas produktif lainnya

 

 

Keempat, banyak kawan membuka pintu rezeki

Ada ilmu di setiap pertemuan, dan ada ilmu disetiap silaturahim. Keseringan lebur, pergi pagi pulang malam, membuat waktu untuk bersosialisasi dengan keluarga, tetangga, dan teman lainnya jadi berkurang. Gak mau juga kan relasi kita segitu-gitu saja alias 4L (loe lagi, loe lagi). Kapan nambah temannya? Kapan dapat jodohnya? #eh

 

 

Kelima, membuat tubuh sehat

Setidaknya pulang teng-go bisa mengurangi stress dari beban pekerjaan. Sebab kita masih punya waktu untuk istirahat yang layak dan cukup.

 

Lembur memang bukan hal yang diharamkan. Karena kadang kita perlukan. Tapi pulang teng-go punya banyak manfaat dan keuntungan. Bukankah hidup harus seimbang?

 

So mau jadi Teng-Go Man atau Full Day Man, itu pilihan Anda 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: