Motivasi,  Perspektif

BELAJAR DARI UNIVERSITAS

Belakangan ini saya jarang baca buku. Mungkin karena kurang mau meluangkan waktu saja untuk membaca buku. Padahal masih ada beberapa buku yang belum terjamah. Banyaknya baca artikel atau nonton video Di YouTube.
.
Minggu lalu, ketika scrolling Di YouTube, langsung tertuju pada video narasi TVnya Najwa. Di mana bintang tamunya adalah founder dan CEO market place ternama. Achmad Zaky dan William Tanuwijaya.
.
Ada pertanyaan menggoda dari Mba Nana (Najwa Shihab) kepada mereka. Kurang lebih seperti ini pertanyaannya
.
“Saya ingin tahu dong, berapa sih gaji CEO Di Tokopedia?”
.
“Saya dengar gede. Saya mau dong melamar kerja ke sana”.
.
Seketika dijawab William, “gaji yang diterima awal pertama kali merintis Tokopedia sekitar 3 jutaan”.
.
“Itu 3 juta kan dulu. Sekarang ketika valuasinya sudah triliunan berapa sih gajinya?” Sentil mbak Nana.
.
“Yang pasti ada yang gajinya lebih besar dari CEO. Ialah mereka, para tim yang membesarkan Tokopedia”.
.
Seketika Saya merenung. Kalau semisal Saya atau Anda diberikan jabatan CEO, yang pertama kali diharapkan apa sih?
.
Kebanggaan? Gaji besar? Fasilitas mewah? Atau gengsi?
.
Pernyataan William seolah mematahkan mitos kalau CEO di perusahaan selalu mendapat gaji yang tinggi. Dan faktanya, di Tokopedia tidak demikian.
.
Ditambah lagi menurutnya, perusahaan yang dia rintis ingin seperti universitas. Bukan sebuah kerajaan.
.
Kalau perusahaan seperti kerajaan, yang dikenal orang luas adalah foundernya. Karena kerajaan bersifat absolut. Menurutnya Tokopedia ingin seperti universitas, dimana yang dikenal bukan foundernya. Tapi alumninya dan kebermanfaatannya.
.
Kita mungkin tidak tahu siapa founder universitas ternama di negeri ini. Tapi kita pasti tahu, universitas mana saja yang telah melahirkan lulusan terbaik. Dan keberadaannya memberikan dampak dan manfaat luas bagi masyarakat.
.
Dan di usia Tokopedia yang ke 9 tahun ini, dia ingin meneruskan tongkat estafet perusahaan kepada CEO selanjutnya. Mungkin dua atau tiga tahun ke depan akan dicarikan.
“True leader don’t create followers. They create more leaders”.
Kadang ada beberapa orang yang merasa dirinya hebat ketika perusahaannya tidak akan berjalan tanpa dia. Padahal justru itu tidak demikian. Situasi tadi menandakan dirinya gagal meneelegasikan tugas.
.
Bahkan former CEO XL, Pak Hasnul Suhaimi pernah menceritakan, ketika dirinya diangkat jadi CEO, dirinya sudah disuruh mencari penggantinya oleh para pemilik saham.
.
Artinya ketika kita mendapat mandat atau amanah jadi seorang leader, tugas kita bukanlah memerintah dan menyuruh-nyuruh saja. Tapi menghasilkan leader baru.
.
Jangan  merasa bangga dulu ketika mendapat keberhasilan. Cek dulu, sudahkah keberhasilan kita tadi memberikan dampak positif dan manfaat yang luas pada sekitar?
“Leadership is action. Not position” Donald H. McGannon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: