Perspektif

3 ALASAN KENAPA GAME LEBIH DISUKAI ANAK DIBANDING BELAJAR.

“Nak, nilai ulangan kamu kok jelek?”.
.
“Pasti karena kamu main game terus! Pokoknya mulai besok, kamu tidak boleh main game lagi!”.
.
Pernah dengar kalimat tadi?
.
Mungkin beberapa dari Anda ada yang pernah berada disituasi di atas. Ketika mendapat nilai ujian jelek, maka orangtua Anda akan langsung menyalahkan game sebagai biang keladinya.
.
Bahkan seorang teman, pernah dilarang orangtuanya bermain dengan teman tetangganya hanya karena dia memiliki konsol game.
.
Orangtua teman tadi merasa khawatir jika anaknya bermain dengannya, akan keasyikan main game dan lupa waktu belajar.
.
Game selalu dijadikan kambing hitam ketika nilai anak merosot. Padahal bisa saja nilai anak jelek karena cara belajarnya yang kurang menyenangkan, terkesan kaku, dan kurang interaktif.
.
Sebagai orangtua, kita tidak bisa memakai cara belajar kita dahulu. Apalagi di zaman now. Teknologi dan informasi tak bisa lepas dari genggaman.
.
Tak heran kids zaman now lebih kritis dibanding kids zaman old. Anak sekarang tidak bisa hanya diberi larangan, tanpa alasan dan solusi.
.
Ketika anak dilarang bermain game, makin dilarang makin penasaran. Seringkali yang ditemui, larangan tadi tidak disertakan alasannya, juga solusinya. Pokoknya kalau tidak boleh, ya gak boleh.
.
Ujungnya anak malah jadi curi-curi waktu dan kesempatan. Bahkan back street untuk bermain game.
.
Sebagai orangtuanya zaman now, dituntut untuk melek teknologi, update informasi, juga tahu jargon-jargon yang sedang tren jadi bahasa anak zaman now.
.
Biar apa? Biar kita bisa memahami, semakin dekat, dan mudah dalam menasihati atau mengarahkan.
.
Kembali lagi, kenapa game sering dilarang para orangtua. Tapi disukai anak dibanding belajar. Mungkin 3 alasan ini bisa jadi alasannya.
.
1. GAME LEBIH MENYENANGKAN.
Siapapun setuju kalau game itu menyenangkan, bahkan bisa membuat lupa waktu ketika keasyikan memainkannya.
.
Berbeda dengan belajar yang kaku, duduk berjam-jam di ruangan, memperhatikan papan tulis dan buku, atau selama belajar tidak boleh memegang smartphone. Meskipun di sekolah atau tempat belajar terdapat WiFi.
.
Padahal cara belajar bisa dibuat asyik dan menyenangkan dengan memanfaatkan teknologi. Semisal memakai kahoot. Anak zaman now mainannya Instagram dan YouTube. Jadi konten audio dan visual lebih mereka sukai.
.
Kalau belajar hanya mendengarkan atau melihat tulisan di buku atau papan tulis, ya wajar mereka bosan.
.
2. GAME TIDAK PERNAH MENYALAHKAN ATAU MEMPERMALUKAN
“Kamu itu gimana sih. Semester sekarang ranking terakhir. Malu dong sama yang lain!”.
.
Pernah dengar kalimat di atas?
.
Mungkin Itulah kenapa anak-anak lebih memilih game dibanding belajar.
.
Ketika anak bermain game, dan gagal. Game tidak akan memarahinya, menyalahkannya, bahkan mempermalukannya. Yang ada malah disuruh mencoba lagi.
.
Di dunia nyata, banyak ditemui ketika anak mendapat nilai jelek malah dihukum. Pertanyaannya, apakah dengan dihukum anak akan menjadi mengerti pada pelajaran yang nilainya jelek?
.
Kalau pun anak Saya nanti nilainya jelek, dan gurunya malah menghukumnya. Orang pertama yang Saya temui dan marahi adalah gurunya.
.
Anak mendapat nilai jelek, bisa jadi dia belum memahami pelajaran seutuhnya. Kaitannya dengan dihukum apa? Apalagi dihukum disuruh berdiri di depan kelas atau lari keliling lapangan. Apakah ada jaminan setelah dihukum dia jadi paham pelajaran dan nilainya bagus?
.
Belum lagi ketika anak mendapat nilai jelek, orangtua sering menyalahkannya, bahkan mempermalukannya dengan membanding-bandingkan nilai dirinya dengan teman-temannya yang lain.
.
Berbeda dengan game. Kita misalnya main game Super Mario. Ketika si Mario mati, masuk jurang. Apakah kita disorakin, dimarahin, atau dipermalukan? No. Yang ada kita disuruh mencoba lagi dan mengulang lagi untuk bermain di level sebelumnya.
.
3. GAME SELALU MEMBERIKAN APRESIASI SEKECIL APAPUN ITU
Selalu ada kebanggaan dan kepuasan ketika kita menyelesaikan game sampai akhir. Begitu pun anak-anak.
.
Ketika game selesai, maka dia akan memberikan apresiasi berupa ucapan selamat, naik ke level berikutnya, amunisi bertambah, sampai perayaan seperti kembang api, dan sebagainya.
.
Di dunia nyata kadang ketika anak mendapat nilai bagus, apresiasi hanya berupa “Oh, bagus”, “hebat”, “selamat”, dan kata-kata mainstream lainnya.
.
Ya memang masih ada orangtua yang memberikan apresiasi lebih dari itu. Tapi game mampu memberikan tantangan, yang ketika tantangan tersebut mampu diselesaikan, ada reward yang bisa didapatkan.
.
Sebagai orangtua, kita juga bisa seperti game tadi. Meski reward yang diberikan tidak harus berupa materi.
.
Mungkin itulah alasan kenapa anak-anak lebih suka maen game, dan kuat berjam-jam main game dibanding belajar.
.
Semoga bermanfaat.
“Waka waka waka waka, waka waka waka waka” -Pac Man

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: