Perspektif

INILAH KENAPA KESOMBONGAN TIDAK AKAN MEMBUAT KITA JADI BERSINAR

Siapa disini yang kemarin mendukung Perancis jadi juara?

 

Piala dunia 2018 sudah berakhir dengan Perancis yang jadi juaranya.

 

Jujur saja, Saya berharap Kroasia yang jadi juara. Bukan karena benci sama Descamps yang tidak memanggil Benzema. Tapi biar ada juara baru saja. Supaya rame.

 

Hampir tidak ada yang menyangka, Kroasia bisa melaju sampai ke final. Bahkan pelatih mereka saja, merasa tidak percaya ketika timnya mencapai babak perdelapan final.

 

Para pemain Kroasia boleh saja merasakan kekecewaan dari kekalahan kemarin. Tapi ada satu pemain mereka yang mungkin lebih kecewa dan merasakan penyesalannya. #nyesek

 

Ialah Nikola Kalinic, pemain Kroasia yang bermain Di AC Milan.

 

Hal itu bermula ketika dia menolak dimainkan saat Kroasia melawan Nigeria. Dia berdalih punggungnya bermasalah. Entah encok atau bukan.

 

“Pada pertandingan melawan Nigeria, Kalinic melakukan pemanasan dan seharusnya tampil di babak kedua. Tapi dia berkata, tidak siap karena dia merasakan masalah di punggungnya. Seperti yang terjadi pada laga lawan Brasil dan Inggris”. Ujar sang pelatih.

 

Alasan Kalinic mungkin bagi kita masuk akal. Tapi sang pelatih, Dalic mengendus itu hanya akal-akalan Kalinic saja karena menolak dimainkan dari bangku cadangan.

 

Di lain hal, menurut rekan satu timnya, Kalinic memiliki ego yang tinggi dan itu bisa menjadi masalah juga bumerang untuk Tim.

 

Dan saat itu juga sang Pelatih langsujg mengirimkan tiket pulang ke Kroasia untuknya.

 

Tanpa pamit dan meminta maaf, Kalinic langsung pulang dan liburan. Seakan-akan ingin menunjukkan “Gak ada gue Kroasia gak mungkin lolos fase grup”.

 

Apesnya justru sekarang dia harus membayar mahal kesalahannya. Salah besar yang disangkakannya.

 

Kroasia malah melaju ke final, meskipun jadi juara kedua. Tapi yang pasti, para rekan-rekan setimnya jadi saksi hidup sejarah persepakbolaan Kroasia.

 

Belum lagi mereka dapat medali perak. Sementara Kalinic, mungkin hanya gigit jari. Dan Kalinic hanya jadi penonton.

 

Sekarang mungkin Kalinic sedang merasakan penyesalannya, karena piala dunia 2018 ini bisa jadi yang terakhir untuknya.

 

Mengingat saat ini usianya sudah 30 tahun. Belum lagi attitude nya yang bisa jadi pelatihnya nanti untuk berpikir ulang mengikutsertakan kembali.

 

Mungkin diantara kita ada yang seperti itu. Merasa diri paling hebat. Yang kalau gak ada kita, organisasi tidak akan jalan.

 

Merasa diri yang paling hebat, adalah asal mula kesombongan. Belum ada karya yang bisa dibanggakan sudah gaya-gayaan.

 

Hasil kerja tim, diklaim sebagai hasil diri sendiri. Padahal kontribusinya nihil. Kayak balon, ngembang terlihat besar tapi kosong (hampa).

 

Memang yang seperti itu di pekerjaan atau bisnis ada? Ada.

 

Jika Ada teman yang seperti tadi, bisa jadi mereka terkena star syndrome.

 

Orang-orang yang kena star syndrome tadi, merasa dirinya layak diagungkan oleh Karena banyak pengakuan dari orang lain terhadapnya. Meskipun itu hanya ngaku-ngaku.

 

Itulah kenapa Saya lebih setuju dengan satu penilaian sang ahli. Dibanding ribuan penilaian orang awam.

 

Satu penilaian dari ahlinya, akan membuat kita lebih yakin dan gak ngaku-ngaku yang terbaik.

 

Dan ketika Ada orang-orang seperti tadi, Saya hanya bisa bilang:

 

“Tunjukkan karya, bukan gaya”. -Deddy Corbuzier

 

Postingan ini bukan untuk menyudutkan Kalinic. Tapi sebagai bahan renungan dan pembelajaran Saya pribadi.

 

Tak perlu di share kalau dirasa tak bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: