Perspektif

BEDA PEMIKIRAN BEDA KEYAKINAN

Jika Anda sedang jalan-jalan ke mall, kemudian melihat sebuah outlet minuman yang sedang ramai. Tipe pengunjung manakah Anda?

 

Pertama, tipe yang langsung memikirkan produk apa yang ingin dibuat untuk bisa ramai seperti mereka.

 

Kedua, tipe yang langsung ingin punya outlet tersebut sambil membayangkan omzet dari ratusan cabang nanti.

 

Ketiga, tipe yang langsung ingin memiliki mall seperti yang sedang Anda kunjungi.

 

Mungkin sebagian dari Anda banyak yang jadi tipe pengunjung kedua.

 

Entah karena minder, merasa berat dan tidak mungkin bisa menjadi tipe pengunjung yang ketiga.

 

Padahal setiap pencapaian besar, berawal dari mimpi yang dibarengi ikhtiar dan dihujani doa.

 

Ini soal mindset yang dibangun oleh keyakinan. Bicara keyakinan, bicara keberanian.

 

Kalau mimpi saja sudah takut, ya amat disayangkan. Toh mimpi itu gratis. Yang gak gratis itu mewujudkannya.

 

Ada pepatah mengatakan:

“practice like a champion”.

 

Yang artinya berlatihlah seperti seorang sang juara.

 

Enam tahun lalu, Saya ingat betul tidak tahu menahu bagaimana caranya nerbitin buku. Biasa Saya nulis di blog, dan itupun bisa dihitung jari pembacanya.

 

Beberapa teman menyarankan tulisan di blog untuk dibukukan, seperti Raditya Dika.

 

Mencoba mengikuti saran teman-teman tadi, memberanikan diri melempar naskah ke penerbit. Alhamdulillah, dari lima penerbit tidak ada yang mau menerima.

Menyerah sampai di sana? No! Karena Saya orangnya gak mau kalah, usaha dan upaya terus menerus dilakukan.

 

Sampai memang betul-betul masih belum ada penerbit yang mau melirik naskah.

 

Sudah menjadi kebiasaan jika tiap berkunjung ke mall yang jaraknya 40 km dari rumah dengan waktu tempuh satu jam, pasti tidak pernah terlewatkan berkunjung ke Gramedia.

 

Sekadar untuk mencari referensi juga demi nambah koleksi buku.

 

Seketika itu Saya berkata kepada seorang teman “Suatu hari nanti buku Saya yang akan ada di rak ini”. Sambil nunjuk rak best seller. Dan dia pun mengaminkan.

 

Berhenti sampai di sana? No!

 

Saya print judul calon buku di kertas karton, dan dibuat seolah-olah sudah seperti buku. Padahal isinya kertas kosong. Covernya saja dibuat meyakinkan dan di simpan di dekat komputer.

 

Kalau perlu taruh calon buku tadi di rak toko buku dan foto.

 

“Wah, tapi apa gak dikira kepedean kalau coba cara tadi Kang?”

 

Mimpi memang butuh keberanian untuk mewujudkannya. Inilah yang disebut menjemput dengan kepantasan.

 

Persis kayak cari jodoh. Kalau dicari, bakal lama nemunya. Namanya juga mencari. Bisa dapat bisa tidak. Kenapa gak dipancing saja dengan cara memantaskan diri, biar cepat. Kalau diri sudah pantas, semesta akan mendukung.

 

Ngomong-ngomong soal memantaskan diri dalam menjemput jodoh, dibahas lengkap di buku OTW Halal-nya Jee Luvina.

 

Pikiran kita itu seperti teko. Apa yang dikeluarkannya akan sama dengan isinya.

 

Coba cek dulu, jangan-jangan selama ini Anda takut bermimpi besar karena punya pemikiran sempit, sebab sering mengakses informasi negatif dan berkumpul di lingkungan yang tidak suportif.

 

Tak perlu minder jika mimpi kita ditertawakan karena dianggap terlalu besar. Mungkin saja mimpi mereka yang terlalu kecil.

 

Dan tak perlu juga berdebat panjang soal mimpi tadi dengan mereka. Bungkam saja mereka dengan bukti. Itu lebih elegan.

 

So, pastikan Anda berada di lingkungan yang tepat. Lingkungan yang membantu Anda bertumbuh dalam mewujudkan mimpi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: