Perspektif

Tumbuh Ke Samping? Why Not?

“Tumbuh itu ke atas. Gak ke samping.” Iklan dari produk susu peninggi badan.
.
Sebenarnya saya lebih percaya testimoni dibanding iklan. Sebab iklan seringkali membahas keunggulan produk yang ditawarkan. Jadi dalam membeli barang, saya biasa cari informasi dan testimoninya di forum-forum. Biar lebih fair informasinya dari perspektif pelanggan.
.
Ngomong-ngomong susu peninggi badan, saya jadi ingat masa-masa putih abu. Sejak duduk di bangku kelas X, diantara teman-teman sebaya, tinggi badan saya tidak lebih dari 164 cm. Alias terpendek.
.
Sekadar info, bapak saya bukan bapaknya Messi yang  menyarankan saya untuk suntik hormon, karena khawatir dengan tumbuh kembang anaknya.
.
Seorang teman pernah menyarankan untuk meminum susu “DanSapi” rutin sebelum tidur. Katanya bisa buat meninggikan badan disertai loncat-loncat dengan dosis tepat. Entah dia sedang jualan susu tersebut atau karena dia sudah jadi korban iklan.
.
Sampai tiba saat kenaikan kelas. Semester berikutnya, saya yang biasa lihat teman kemarin selalu melihatnya ke atas karena mereka tinggi. Tiba-tiba jadi sebaliknya. Saya melihat mereka-mereka jadi harus menunduk.
.
Kok bisa? Banyak diantara teman bertanya-tanya. “Makanya pakai ginian!” iklan. Saran teman tadi saya jalankan tapi bukan pakai susu yang disebutkannya. Saya tidak akan menyebut merek susu yang diminum, karena tidak di endorse. Kecuali mereka nge-endorse. *ngarep
.
Bagi sebagian orang, terlebih kaum hawa, tumbuh ke atas menjadi perjuangan berat tersendiri dan seringkali sensitif untuk dibahas. Karena seringkali ditemui keluhan dari mereka yang menyebutkan tumbuhnya jadi ke samping. Memang tumbuh itu ada dua, ke atas atau ke samping.
.
Bicara soal tumbuh, tidak hanya soal postur tubuh. Di tempat kita kerja, tumbuh menjadi sebuah pengharapan. Sebab normalnya setiap orang ingin tumbuh ke atas, mencapai puncak karirnya.
.
Dengan tumbuh ke atas otomatis tanggung jawab akan bertambah, pengaruh akan menguat, kontribusi akan meluas, dan tentunya isi rekening pun ikut bertambah setiap bulannya.
.
Tapi tumbuh ke atas itu susah jendral! Sama seperti naik ke puncak gunung. Butuh bergerak, juga perjuangan. Itu!
.
Jika kita disuruh memindahkan lemari, mama yang akan kita pilih? Mengangkatnya atau menggesernya?
.
Mengangkatnya tentu butuh tenaga besar. Berbeda jika kita menggesernya, tidak seberat mengangkatnya. Kecuali kita Hulk.
.
Buat kita para pekerja atau professional yang ingin memperbaiki nasib lewat jalan karirnya, kita harus terus bergerak untuk memperbesar kapasitas. Biar tumbuh ke atas.
.
Kalau masih belum bisa tumbuh ke atas. Tumbuh ke samping, why not?
.
Ketika kita belum bisa mencapai middle management atau top management, no problem. Kita bisa tumbuh ke samping. Kita mungkin belum bisa menduduki kursi elite di perusahaan, tapi kita bisa melebarkan kompetensi kita di bidang lain.
.
Kita saat ini mungkin pengaruhnya belum sebesar para top leader perusahaan dan belum bisa sampai ke sana. Tapi setidaknya kita bisa jadi content creator, penulis, trainer, youtuber, konsultan, internet marketers, ataupun yang lainnya.
.
Seperti menggeser lemari tadi. Jika tidak bisa tumbuh ke atas, tumbuh ke samping, why not. Yang penting ada pergerakan. Karena ciri hidup itu adalah bertumbuh. Jika tidak berarti mati.
.
Selamat berkumpul dengan keluarga. Jangan Lupa bergerak dan bertumbuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: