Motivasi

Kesempurnaan itu membutuhkan waktu dan proses, bukan protes!

Sumber gambar: Pixabay

“Perfection needs time.” — Ferruccio Lamborghini

Kesempurnaan itu membutuhkan waktu dan proses, bukan protes!

Dalam membuat sebuah karya, ada tahapan yang mau tidak mau, suka atau tidak, harus dilewati. Saya biasa menyebutnya tahap melawan minder.

 

Kita mungkin pernah merasa minder ketika melahirkan karya perdana, karena terperangkap dalam pikiran negatif seperti:
– Malu menampilkan karya kita karena membandingkan dengan karya orang lain yang sudah lebih dulu berpengalaman
– Takut ditertawakan, dicemooh, atau dibully
– Malu karena hilangnya rasa percaya diri karena menganggap semuanya sebagai beban dalam pikiran

 

Beberapa orang menyebut, jika karya perdana adalah karya sampah, yang terkadang norak, menjijikan, bahkan malu-maluin. Suka atau tidak, memang realitas seperti itu. Seperti kita tahu, tulisan seorang Raditya Dika saat awal kemunculannya dengan karya terbarunya saat ini, pastilah berbeda. Atau tak perlu jauh-jauh membandingkan, tulisan yang kita tulis dua atau tiga tahun lalu yang biasa muncul di Facebook, kadang suka membuat geli tersendiri. Sambil bertanya-tanya “kok bisa-bisanya ya gue nulis dan punya pemikiran seperti itu?”. Contoh lain keripik singkong yang fenomenal “Ma Icih”, yang diawal kemunculannya, kemasannya hanya terbungkus plastik bening biasa yang disablon. Sekarang bisa kita lihat, kemasannya sudah jauh lebih rapi dan terlihat profesional.

 

Bukan berarti kita harus menunggu sempurna dulu baru berkarya. Bukan juga berkarya “yang penting jadi” (baca; jelek, belum jadi, asal-asalan). Saya sendiri lebih suka memulai sesuatu sambil menyempurnakan. Bukan menunggu sempurna baru memulai. Zaman now yang serba cepat, menunggu sempurna terus menerus bisa menghabiskan waktu dan keburu keduluan orang.

 

Selama kita tidak mampu melewati tahapan melawan minder, maka kemunduran akan semakin dekat menghampiri. Boleh jadi hari ini karya kita memalukan, tapi nanti setelah kita sukses, justru moment ini menjadi hiburan tersendiri. Sebab orang sukses pun, kadang mengambil pelajaran dari menertawakan kegagalannya di masa lalu. Bukan menertawakan kegagalan orang lain.

 

Dan dengan diluncurkannya karya perdana tadi, kita jadi tahu respon dari penikmat dan pecinta karya kita. Tentu tidak semua orang suka dengan karya kita, karena kita tidak akan mungkin mengambil hati setiap orang. Mendapatkan saran, masukkan, atau kritik, justru menjadi modal tersendiri untuk melakukan perbaikan sampai karya kita berada di titik yang ideal menurut kita.

 

Misal kita ingin berkarya dengan menerbitkan sebuah buku, maka coba cari tahu genre apa yang akan ditulis? Buku-buku apa saja yang akan dijadikan bahan referensi? Siapa yang akan dijadikan narasumber? Kapan deadline-nya? Adakah komunitas yang memiliki kesamaan hobi (dalam hal ini menulis)? Supaya kita tidak sendirian dan selalu mendapatkan energi dari anggota lain.

 

Kalau tahapan-tahapan tadi sudah terlewati, tentunya dengan persiapan matang, maka membuat karya bagaimanapun bisa kita lakukan tanpa harus merasa minder.

 

Minder karena kita merasa tidak percaya diri. Tidak percaya diri karena sering membandingkan kekurang diri dengan kelebihan orang lain. Jangan jadikan minder penghambat kreativitas dan kesuksesan dalam berkarya. Tapi jadikanlah modal untuk kita terus belajar. Sebab kebodohan adalah modal awal kita menjadi pintar, asalkan mau jadi pembelajar.

 

Sempurna itu membutuhkan waktu dan proses. Karenanya, butuh kesabaran dalam mengawalnya.

 

Semoga setelah karya perdana “sampah” terlahir, bisa menjadi cerita lucu nanti ketika kita meluncurkan karya yang sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: