Perspektif

Money to Meaning

Dalam ilmu fisika, hukum kekekalan energi menyatakan bahwa “Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain.”

 

Hukum Kekekalan Energi (HKE) ternyata berlaku juga dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam bekerja (mencari nafkah). Diantara kita pasti pernah atau sering mendengar quote “kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil”. Artinya semakin kita keras dan ikhlas dalam bekerja, hasilnya akan sebanding dan kembali lagi pada diri kita.

 

Seperti kisah berikut:

 

Seorang raja yang terkenal bijaksana memberikan perintah kepada 3 orang menterinya untuk pergi ke sebuah gunung demi mencari buah-buahan sepulangnya dari sana. Bermodalkan karung yang diberikan kepada masing-masing, pergilah mereka. Langkah demi langkah mereka tempuh, tapi belum menemukan pohon yang berbuah.

 

Menteri A mulai kelelahan seakan tak sanggup melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Dirinya merasa frustasi dan titah raja tadi dirasa tak masuk akal baginya, karena gunung yang mereka daki tanhanya tandus dan gersang. Seketika dia berpikir untuk tidak melanjutkan perjalanan dan memilih memasukkan ranting dan batang pohon yang tak berbuah ke dalam karungnya. Dalam hatinya berkata “yang penting aku sudah melaksanakan titah raja, toh raja tak akan mungkin melihat isinya. Dia kan sibuk dan tidak mungkin mau memakan buah sembarangan.”

 

Sementara Menteri B masih setengah perjalanan, tapi belum juga menemukan pohon berbuah. Kakinya yang mulai keram-keram dan kelelahan, memaksanya untuk berhenti di tengah pendakian. Dalam hati dia bertanya “Untuk apa raja memberi titah ini ya? Bukannya stok buah-buahan di kerajaan masih banyak dan sudah teruji kualitasnya? Sementara buah di gunung ini, belum tentu bagus kualitasnya”. Menteri B pun berpikiran untuk memasukkan batu-batu kerikil dan pasir ke dalam karungnya sambil berujar “toh raja tidak akan mungkin memeriksa isinya satu-satu, dia kan sudah punya segalanya. Ngapain minta isi dari titahnya tadi”.

 

Menteri C yang terlihat letih tetap melanjutkan pendakian sampai ke puncak. Setelah beberapa langkah, dia menemukan pohon berbuah lebat. Seketika langsung dipetiknya dan dimasukkan ke dalam karung miliknya. Dan mereka pun pulang ke istana untuk menyerahkan hasil tugasnya.

 

Di hadapan raja, mereka saling bertanya-tanya dalam hatinya tentang maksud dari titah raja tadi. “Bagus, kalian sudah melaksanakan perintah dengan baik”. “Selanjutnya, ambil dan makanlah hasil usaha kalian sekarang!” seru raja.

 

Kira-kira yang mendapatkan nasib berungtung menteri yang mana?

 

Kisah tadi mengajarkan apa yang kita lakukan, akan kembali pada kita. Kalau pun kita sudah bekerja secara keras dan ikhlas tapi hasilnya tidak sepadan dengan usaha tadi, kembali lagi ke HKE. Hasil yang diterima akan sebanding dengan usaha kita, dan hasil tadi tidak selalu berupa uang atau materi. Ketika kita sudah kerja keras biar bisa naik jabatan, naik gaji, atau dapat profit tinggi, tapi hasilnya tidak sepadan. Bisa jadi hasilnya berubah bentuk ke bentuk yang lain seperti kesehatan, keluarga harmonis, ketenangan hidup, kebahagiaan, dan energi positif lainnya.

 

Mungkin saja kita gagal naik gaji/ naik jabatan/ dapat profit tinggi setelah bekerja begitu keras. Tapi kita mendapat ketenangan hidup, kebahagiaan, kesehatan, dan energi positif lainnya. Yang bisa saja itu tidak kita dapatkan ketika keinginan kita tadi (naik gaji/ jabatan/ dsb) terwujud. Ada yang sudah naik jabatan tapi tidak punya waktu untuk keluarga, keluarga jadi berantakan. Ada yang sudah naik gaji tapi jadi pelit bersedekah (zakat asa dibangsat (baca:zakat seperti dirampok)). Ada yang sudah dapat profit tinggi di bisnisnya, tapi hidupnya tidak tenang dan sering sakit-sakitan.

 

Allah Maha Adil. Itu yang harus diyakini. Mungkin sebagian dari kita ada yang betanya-tanya “Jika Allah Maha Adil, lalu kenapa ada orang yang kerjanya santai-santai, malas, sering korupsi, tapi dapat gaji gede? Bahkan mereka yang kerjanya rajin saja,  gajinya tidak sebesar mereka?”. Terlihat, orang-orang di kategori pertama tadi seperti punya gaji besar. Tapi siapa yang tahu dibelakangnya seperti apa.

 

Seperti halnya ketika kita membayar parkir pada tukang parkir. Apakah kita memberikan uang kepadanya atas dasar cinta? Jika tidak (bukan karena cinta), mungkin seperti itulah Allah memberikan rezeki kepada mereka. Bukan atas dasar cinta.

 

Kalau selama ini kita merasa sudah bekerja keras tapi belum mendapatkan hasil yang sesuai harapan. Maka renungilah. Apakah benar kita belum berhasil (mendapatkan hasil)? Atau kita yang seringkali mempersempit makna rezeki pada uang atau harta. Setiap perbuatan akan selalu ada balasannya, sekecil apa pun itu. Kalau pun kita sudah bekerja keras, tapi hasilnya belum maksimal. Bisa jadi balasannya tidak untuk saat ini, tapi ditabung untuk nanti dan kelak saat kita sudah tiada.

 

Apalah harta jika tanpa arta. Harta tanpa harti (baca: makna). Kita bisa membeli apa pun denga harta yang dipunya, tapi selama orientasinya dunia, kita tidak akan pernah puas. Seperti halnya meminum air laut.

 

Tidak ada yang salah ketika kita ingin jadi orang kaya nan sukses. Yang disayangkan ketika semua tadi didapat, tapi tidak bisa memberikan manfaat bagi sesama. Karena itulah makna hidup sesungguhnya. Ketika kita bisa membuat orang lain lebih berdaya, bermanfaat, juga bermakna.

 

Ketika kita sudah berpenghasilan, kita mungkin bisa membeli barang dan apapun semua kita. Itu jika kita menuruti Hawa nafsu dan keinginan duniawi. Terus menerus mengikuti keinginan duniawi, bisa membuat sakit hati dan sakit fisik lainnya jika tidak kunjung terpenuhi.

 

Kalau kita sudah tahu makna dari apa yang dikerjakan. Semisal kita tahu kenapa alasan kita bekerja, maka kerja tidak hanya asal kerja yang semangatnya Cuma di tanggal satu. Contoh misalkan kita bekerja karena:

 

Untuk menghidupi keluarga, bentuk mensyukuri nikmat, membahagiakan keluarga, memberdayakan saudara, dan lainnya, pastinya semuanya akan dijalani penuh makna. Ketimbang kita yang kerja Asal kerja, datang pagi pulang sore, ketemu senin berasa malas, ujung-ujungnya kita jadi karyawan transaksional. Minim prestasi, nol kontribusi  tapi ingin gaji yang gede. Jadinya makan gaji buta.

 

Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang ikhlas juga amanah dalam bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: