Perspektif

Gagal Itu Kita Yang Buat

Gagal Itu, Kita Yang Buat!

 

“Hidup tak semudah cocote motivator”
Sebagian dari Anda pasti pernah mendengar kalimat di atas. Bagaimana rasanya?
Biasa saja?
Setuju?
Tidak setuju?
Atau silahkan jawab sendiri.

 

Apa yang kita dapat ketika mengucapkan kalimat di atas? Jadi kaya? Makin sukses? Bahagia? Atau silahkan jawab sendiri.
Kita boleh mengumpat dengan kalimat tadi, tapi para motivator di luar sana justru dibayar (dapat uang) dari kata-katanya.

 

Jika banyak orang berucap, motivator terbaik adalah diri sendiri. Lalu kenapa masih ada orang yang belum bisa memotivasi dirinya sendiri?

 

Percayakah Anda, kata-kata mempunyai ruh. Kata-kata seperti apa yang punya ruh dan bisa menggerakan? Kata-kata seorang pemimpin (leader). Ketika Anda mendapat perintah dari seorang pemimpin, seberapa yakin Anda akan melakukannya?

 

Apakah ketika kita tidak mampu memotivasi diri sendiri, pertanda kita belum bisa mempimpin diri sendiri? Ya. Bagaimana mungkin kita bisa memimpin orang lain, sementara kita belum mampu memimpin diri sendiri. Dan bagaimana mungkin orang percaya, juga mendengar setiap kata yang kita ucap, jika kita sendiri tidak percaya pada diri sendiri dan tidak mau mendengar nasihat diri.

 

Tindakan kita, diawali dan dipengaruhi oleh kata-kata. Sebagai contoh, Fulan ditawari untuk menjadi manager perusahaan, sementara Fulan saat ini masih di level staff. Ada rasa bimbang dan khawatirpada diri Fulan. Khawatir dia tidak bisa menjalankan peran seorang manager.

 

Ketika Fulan tadi berkata dalam hati tentang kekhawatirannya, saat itu juga dia sedang menghambat dalam mengambil keputusan. Rasa khawatir Fulan tadi muncul karena dia sendiri yang membuatnya. Dia memaknai posisi manager itu jabatan yang berat, penuh risiko, karena kalau gagal risikonya dipecat.

 

Seketika Fulan bertanya apda dirinya

“Adakah gunanya jika saya berpikiran seperti itu?”
“Mengapa saya fokus melihat yang gagal, padahal di luar sana banyak manager sukses yang awalnya seorang staff?”

 

Dan seketika dia mengambil makna baru yang membuatnya lebih yakin mengambil keputusan. Dalam hatinya dia berkata”

“Jika orang lain bisa, saya juga bisa”
“Peluang promosi jabatan ini bukan saya yang minta. Artinya saya telah dipercaya dan dianggap mampu. Lalu mengapa saya malah tidak percaya pada kemampuan saya?”

 

Ketika saat ini masih posisi staff juga sering gagal, dan saya belajar banyak untuk memperbaiki. So, mengapa kali ini tidak saya lakukan hal yang sama.”.

 

Kisah Fulan mungkin pernah dialami beberapa dari kita. Dimana kegagalan bukanlah semata takdir, tapi kita sendiri yang membuatnya. Kita sering menyalahkan keadaan, atau bahkan takdir. Tapi kita tidak mau memaknai dari peristiwa hidup yang kita alami.

 

Pikiran bisa dimanipulasi. Sebab pikiran, tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana imajinasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: