Perspektif

Ini Bahayanya Ketika Alay Sukses!

Zaman now masih ada yang alay?

Ketika sekarang kita hidup di zaman, dimana popularitas menjadi sebuah tujuan. Faktanya banyak pengguna media sosial mengagungkan jumlah followers yang dimilikinya. Tak heran, jumlah followers tadi menjadi ukuran seberapa populer mereka. Bagi yang gila popularitas, pada akhirnya akan stress karena jadi beban pikiran ketika followersnya mulai berkurang satu per satu.

Semakin banyaknya media sosial, kadang tak sebanding dengan konten positif yang diisi para penggunanya. Entah karena bingung, tidak kreatif, atau memang malas membuat konten positif. Akhirnya mereka membuat konten tidak berguna, terkesan negatif, dan alay. Kita sebut konten buruk tadi sebagai konten alay. Sialnya, konten alay tadi justru banyak yang mengapresiasinya. Dari mulai banyak yang nge-like, follow, bahkan share. Ketika konten alay tadi booming, maka yang melihatnya akan terinspirasi untuk membuat konten serupa dengan berharap bisa meraih popularitas yang sama.

BTW, apa itu alay? Sederhananya istilah alay merujuk pada perilaku norak seseorang. Kenapa banyak alay di dunia maya? Menurut Deddy Corbuzier karena hukum piramida. Dimana orang pintar berada di puncak piramida, yang jumlahnya sedikit. Sementara alay, berada di bawah piramida yang jumlahnya besar.

Menurut host Hitam Putih itu, ngalay adalah cara termudah untuk dapat duit dan cari popularitas. Mengapa? Karena masih ada yang menuhankan rating. Semakin banyak yang nonton, semakin tinggi ratingnya. Kenapa banyak yang nonton? Karena masih banyaknya alay yang nonton. Kenapa alay banyak? Hukum piramida, masih banyaknya yang berpendidikan rendah. Kenapa mereka yang berpendidikan rendah masih banyak? Karena faktor lingkungan.

Jadi, mereka yang alay susah diubah? Yes, jika lingkungannya tidak diubah. Kalau ada orang yang terbiasa berbicara kasar dan atau kotor, kemudian lingkungannya tidak melarangnya dan malah memelihara budaya permisif, otomatis orang tadi tidak akan berubah. Selamanya dia akan terbiasa berbicara kasar dan kotor. Pun dengan alay. Karena terbiasa, lingkungan membiasakannya, pada akhirnya jadi kebiasaan. Cara termudah mengubah seseorang adalah dengan memanipulasi lingkungannya.

So, bagi Anda yang pengguna media sosial, isilah ia dengan konten positif. Semisal Anda seorang Youtuber, buatlah channel bermanfaat. Dan kalau Anda seorang blogger atau penulis, buatlah tulisa bermanfaat. Jangan sampai Anda membuat video dan tulisan alay (baca: sampah). Seperti kita tahu, banyak video tentang prank yang harus mengorbankan harga diri. Seperti berciuman di depan umum, atau bertanya hal vulgar pada orang yang tidak pernah dikenalnya. Bagi saya itu alay alias norak!

Pun dengan Anda seorang blogger atau penulis. Jangan sampai menulis hal yang unfaedah. Ingat, setiap karya yang kita buat akan diminta pertanggungjawabannya. Kalau Anda membuat konten alay (entah itu video atau tulisan), ketika konten Anda booming, maka minimal 1% dari followers yang menikmati konten Anda akan terinspirasi. Dan mereka akan membuat konten yang mirip dengan kita, karena mereka berpikir konten alay seperti kita saja bisa sukses dengan mudah.

Bayangkan kalau yang terinspirasinya tadi ada 10% dari followers yang dimiliki. Bayangkan lagi jika yang terinspirasinya tadi mereka-mereka yang masih usia sekolah. Rusaklah sudah generasi negeri. Sebaliknya, kalau kita isi dengan konten positif, otomatis mereka akan terinspirasi untuk berkontribusi dengan cara baik dan positif tentunya.

Last but not least, saya tidak iri pada alay yang sukses. Hanya merasa sedih ketika orang-orang yang menimati karya mereka, terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: