Perspektif

Delay? Enjoy Aja

Kualitas diri seseorang bisa terlihat dari cara dia merespon kejadian

Bagaimana rasanya, ketika kita sudah merencanakan sesuatu, tiba-tiba batal terlaksana? Semisal ketika kita pegi ke luar kota untuk sebuah janji, tanpa diduga jadwal pesawat mengalami delay? Kesal, dongkol, ingin marah, atau enjoy saja? Berbagai respon dari masing-masing orang, pasti akan berbeda.

Minggu lalu, saya mengalami contoh hal di atas. Jadwal pesawat terbang untuk rute Jakarta – Tasikmalaya mengalami delay sekitar hampir lima jam. Alhamdulillah saya bersyukur. Kenapa?
Selepas memenuhi undangan haru jumat lalu, keeseokan harinya jadwal pulang tercatat hari sabtu jam 10.35 WIB. Rencana dari tempat acara menuju bandara berangkat jam 9, dengan berharap tidak terjebak macet. Estimasi saya 45 menit sampai menuju bandara. Tapi begitu setengah jalan, saya sudah terjebak macet. Terlebih hari itu sabtu. Sebelum berangkat menuju bandara, seorang teman menyarankan untuk naik gojek, karena waktu sudah menunjukkan jam 9 lewat.

Sepanjang jalan saya terus melihat jam di smartphone, sambil bershalawat dan berharap bisa sampai bandara sebelum jam 10. Untuk mengusir kepanikan, sesekali mengajak ngobrol driver grab. Tepat jam 10, kami sampai di bandara. Berharap masih bisa check in, mengingat hanya ada satu jadwal penerbangan Jakarta – Tasikmalaya. Kalau tertinggal, selain tiket hangus, harus balik ke terminal, lewat jalur darat dengan jarak tempuh 7 jam.

Ketika check in, petugas loketnya bertanya pada rekannya “Tasikmalaya masih bisa check in?”. Saya berharap masih bisa check in, meskipun secara jadwal 30 menit lagi pesawat berangkat. “Bisa, karena pesawatnya mengalami delay” jawab rekan kerja di sampingnya. Alhamdulillah, ternyata saya tidak jadi ketinggalan pesawat. Setelah masuk ruang tunggu, para penumpang diinformasikan kalau pesawat kami mengalami delay karena cuaca buruk. Dan kami diinstruksikan menunggu 3 x 60 menit. Meski pada akhirnya hampir 5 jam kami menunggu.

Bagi sebagian orang, kejadian ini mungkin merugikan. Tapi bagi saya, justru mengungtungkan. Setiap kejadian pasti menyimpan hikmah untuk kita renungi dan pelajari. Disini saya belajar untuk menikmati kejadian  yang terlihat menyakitkan atau merugikan. Sebab dengan kita memaki-maki petugas layanan, marah-marah di media sosial, atau koprol di tengah bandara pun tidak akan menyelesaikan masalah juga meningkatkan kualitas diri.
Menurut Prof. Richard Wiseman, jika kita terbiasa melihat sesuatu dari kaca mata positif, maka akan membuka banyak pintu keberuntungan dalam hidup kita.

So, mulailah belajar merespon sesuatu dengan kaca mata positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: